BETTER OFF WITHOUT HEART, struggling with HEART, HAVE divine blessing.

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • rossi memorable photos while in Indonesia

    haaaa,,, cool .. photos when rossi come to Indonesia, many recordings that funny ..(koplak). It just sort of joke stress reliever. safely enjoy ...

  • our BECAK

    BECAK is OUR FRIENDLY ENVIRONMENT. In indonesia, Indonesian Call this "BECAK" ...

  • 10 accidents of the most famous formula 1.

    EIf talking about Formula 1, certainly not out of security talks about the race car with super high speed. Why Ayrton Senna (San Marino GP 1994) which crash visible light, was more fatal than a collision Robert Kubica (GP Canada 2007) that seems far more terrifying? Here are 10 of the many deaths in the history of Formula 1 that "establish" security Formula 1 today. ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Healthy. Tampilkan semua postingan

Virginity is identical to the form of Miss V is taut and tight. Many women who are married want her virginity back. There are two ways you can restore virginity, with instant way or manner that requires a longer process. What would be your choice?

1. Operation
Surgery is the most instant way to restore a woman's virginity. This operation is an operation for restoration hymenal ring. Usually, the gynecologist can do so with the help of local anesthesia.

Operations to restore virginity is still rare in Indonesia. Most people who want to restore her virginity would prefer to do it in neighboring Singapore.

In the operation of each part of the hymenal ring will be cut off, then rings sewn back with stitches stitches are twisted and hide under the mucosa or lining. The diameter of the hymenal ring that has been repaired is approximately one inch.

After this, if you have sex the first time, the husband will definitely feel different sensations and states that you are still a virgin.

2. Kegel exercises
Kegel is an exercise pelvic floor muscles which was originally used for therapy in women who are unable to control the discharge of urine. Most of the untrained women will experience a decrease in the uterus due to muscle weakness and thinning of the pelvic floor.

How to tighten vaginal muscles with Kegel technique that is first of all by doing movements such as holding little water for the vaginal muscles to move. Do resist the movement of at least 2 times a day as much as 10 times the contraction of each exercise. Exercises are performed at least six weeks will show if the benefits and try to do the exercise with an open thighs.

That way, the vagina will be more tightly so that having sex with your partner will feel happy because she will feel great pleasure because your vaginal muscle strength.
http://gokilsite.blogspot.com/2011/02/cara-menggembalikan-keperawanan.html

commonly referred to have similar facial. Researchers found the title like it was true and male-female couples do tend to have similar faces.


University of Michigan psychologist Robert Zajonc perform experiments to test this phenomenon.

He analyzed the photographs of the couple taken when she was a newlywed and photographs of the same couple 25 years later.

The results show that the couple has grown to be similar to each other from time to time.

And if the couple is happy, then more likely to have increased physical similarity.

Zajonc suspect the older couple who looked more like, because it has close contacts and mimic facial expressions respectively.

In other words, if the couple has a good sense of humor and lots of laughs, maybe he'll develop laugh lines around her mouth as well as her partner.

Other evidence also suggests that men and women may be attracted to pair up with the same personality. P is 2006, scientists at the University of Liverpool asks participants joined the study to see individual photos of men and women and assess their personality.

The participants did not know the person in the photo is married to whom, but couples who have been together a long time considered to have a personality that is more similar.

While humans are also easy to fall in love with people who have similar DNA. In a study of twins, scientists from the University of Western Ontario found that not only the study participants tended to choose a mate with similar genes, identical twins are also more similar than non-identical twin pairs

http://timetotalks.blogspot.com/2010/06/mengapa-wajah-kekasih-bisa-tampak-mirip.html
http://faktabukanopini.blogspot.com/2011/01/mengapa-wajah-kekasih-bisa-tampak-mirip.html


Banyak orang menggambarkan otak kiri berhubungan dengan kemampuan matematika dan otak kanan berhubungan dengan kreativitas. Kedua bagian otak ini memiliki tugas-tugas yang sangat berbeda. Untuk memastikan, Roger Sperry meneliti otak lebih lanjut.

Kedua bagian otak bekerja secara terpisah. Kedua bagian otak ini mengkomunikasi informasi melalui corpus callosum tebal yang menghubungkan mereka. Otak kanan mengontrol otot di sisi kiri tubuh dan otak kiri mengontrol otot di sisi kanan tubuh.

Ketika Anda mengedipkan mata kanan, otak kiri Anda sedang bekerja. Karena criss-cross wiring, kerusakan di salah satu sisi otak mempengaruhi sisi tubuh yang berlawanan.

Umumnya, otak kiri dominan dalam bahasa guna memroses apa yang Anda dengar dan menangani banyak tugas berbicara. Selain itu, bagian ini juga bertugas melogika dan komputasi matematika pasti. Jika Anda ingin mengingat, otak kiri akan mencarinya.

Otak kanan bertugas di kemampuan spasial guna mengenali wajah dan musik. Dalam matematika, otak kanan hanya mengestimasi dan membandingkan saja. Otak kanan membantu Anda memahami gambar visual. Dalam bahasa, bagian ini mengintepretasikan konteks dan nada seseorang.

Namun sebenarnya, perbedaan otak kanan dan kiri jauh lebih kompleks dari kiri lawan kanan. Otak dengan hati-hati menyeimbangkan dan menugaskan fungsi tertentu masing-masing bagian otak. Kebanyakan orang dominan tangan kanan, hal ini diatur otak kiri.

"Asimetri otak sangat penting agar fungsi otak berjalan benar," kata profesor University College London Stephen Wilson. Hal ini, lanjutnya, memungkinkan dua sisi otak dikhususkan, meningkatkan kapasitas pemrosesan dan menghindari situasi konflik kedua sisi otak saling mengambil alih tugas. [vin]

(inilah.com)



Selama ini masyarakat mengetahui bahwa membaca di tempat yang bercahaya remang bisa merusak mata. Namun yang sebenarnya terjadi adalah tidak merusak mata, namun mata mengalami ketegangan.

Kondisi ini biasanya seringkali dilakukan anak-anak sebelum menjelang waktu tidur. Dengan hanya ditemani cahaya redup atau remang dikamarnya, anak-anak membaca buku cerita, komik atau buku lainnya.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal diungkapkan bahwa membaca di bawah cahaya rendah tidak merusak mata, tapi menyebabkan ketegangan mata. Karena ketika seseorang membaca atau berjalan di cahaya redup, maka mata akan menyesuaikan dengan beberapa cara.

Pertama, retina mata akan mulai memproduksi zat kimia yang lebih sensitif terhadap cahaya, bahkan zat kimia ini dapat mendeteksi cahaya yang dikonversikan ke sinyal listrik serta mengirimkan sinyal ke otak.

Kedua, iris otot menjadi rileks sehingga menyebabkan pembukaan mata. Hal ini memungkinkan mata untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin, sehingga sel-sel saraf retina bisa beradaptasi dengan cahaya rendah agar retina mata bisa bekerja pada cahaya rendah.

Saat membaca di tempat dengan cahaya redup, fokus akan menjadi lebih sulit, hal ini yang membuat mata harus bekerja keras untuk bisa memisahkan kata dan mata menjadi lebih tegang.

Jika mata bekerja keras untuk waktu yang panjang, maka mata akan menjadi lelah meskipun banyak otot yang digunakan. Kondisi ini dapat mengakibatkan beberapa efek fisik seperti mata sakit, gatal, sakit kepala, nyeri punggung dan leher serta penglihatan berkurang.

Selain itu terkadang seseorang jarang berkedip karena terlalu fokus pada satu objek, sehingga kemungkinan bisa mengalami mata kering dan rasa tidak nyaman.

Apabila kondisi ini berlangsung terus menerus, maka ketegangan mata akan semakin meningkat. Jika gejala yang dialami tidak berkurang, maka kemungkinan orang tersebut memiliki masalah mendasar seperti mata rabun jauh.

Sebagian besar beranggapan bahwa membaca di cahaya redup menyebabkan kerusakan permanen, kemungkinan karena seseorang sudah memiliki masalah mendasar mengenai rabun jauh dan ditambah dengan terjadinya ketegangan mata.

Karena itu sebaiknya membaca dengan menggunakan cahaya yang baik, yaitu cahaya yang tidak terlau redup tapi juga tidak terlalu silau sehingga mata tidak mengalami ketegangan. Selain itu usahakan untuk sering berkedip jika terlalu fokus pada suatu objek dan lihatlah ke luar jendela setiap 15-30 menit.


Sumber :
detikhealth.com



Saat udara menjadi dingin, tubuh manusia akan gemetar. Berikut penjelasan mengapa tubuh manusia gemetar saat kedinginan.
Tubuh manusia membutuhkan suhu inti 36,9 derajat Celsius untuk mencegah hipotermia dan konsekuensi inti dingin lainnya. Otak manusia sangat memperhatikan masalah suhu tubuh manusia.

Jika permukaan kulit manusia menjadi terlalu dingin, reseptor kulit akan mengirimkan sinyal ke otak yang memicu serangkaian gerakan ‘trik pemanasan’. Gemetar merupakan salah satu taktik penyelesaiannya di mana otot berkontraksi dan menjadi semakin cepat.

Selain anggota badan gemetar, otot rahang akan mulai gemetar juga dan membuat gigi manusia menjadi menggemeretak . Kedutan ini kemudian menghasilkan panas yang membantu meningkatkan suhu tubuh.

Selain itu, kedutan juga mengisyaratkan pada manusia agar segera mencari tempat yang lebih hangat dan mengkonsumsi minuman hangat.


Sumber :
teknologi.inilah.com

Carol Yager: 727 kg

VIVAnews - Gaya hidup buruk dan makanan tak sehat mengakibatkan penderita obesitas kian bertambah. Dunia kedokteran mencatat ada lima orang terberat yang pernah ada di dunia kedokteran.

Berikut lima orang paling berat yang pernah sepanjang sejarah, seperti dikutip dari blindloop.com
Berat badan Carol pernah mencapai 727 kg, dan langsung masuk kategori terberat di dunia. Dia juga terkenal sebagai orang paling sukses menurunkan berat badan secara alami. Carol kehilangan 362 kg beratnya hanya dalam tiga bulan.

Namun serangan infeksi bakteri pada kulitnya yang menggelambir paska diet ketat. Carol pun mendapat perawatan di Hurley Medical Center hingga meninggal dunia. Yager tak dapat berdiri atau berjalan karena otot-ototnya tidak cukup kuat. Dia meninggal dalam usia muda, 34 tahun akibat gagal ginjal, kegagalan multi organ dan obesitas morbid, pada 1994.

Jon Brower Minnoch: 635 kg
Sejak kecil, Ayub Brower sudah menderita obesitas. Di usia 12 tahun beratnya telah mencapai 132 kg. Ia menikah dengan Jeannette, seorang wanita berat badan normal dan memiliki dua anak. Minnoch dirawat di rumah sakit selama 16 bulan dan kehilangan 419 kg. Namun ia kembali gemuk dan meninggal pada tanggal 10 September 1983, pada usia 42 tahun.

Manuel Uribe: 597 kg

Seperti penderita obesitas umumnya, Manuel Uribe menghabiskan 9 tahun terperangkap di tempat tidur sejak 2001-2009. Pada 2008, Uribe menikah dengan pujaan hatinya, Claudia di tempat tidurnya. Saat mengucap janji pernikahan, ia berkata, "Saya adalah bukti nyata bahwa Anda dapat menemukan cinta dalam keadaan apapun. Sekarang saya memiliki istri, berkeluarga dan hidup bahagia

Walter Hudson: 544 kg
Kebiasaan makan yang tak terkendali membuat warga Brooklyn, New York ini terserang obesitas sejak usia muda. Walhasil, Walter yang makin membengkak terjebak di pintu kamar hingga tim penyelamat harus menghancurkan dinding rumahnya. "Saya makan apapun." katanya soal penyebab tubuh jumbonya tersebut. Meski mengumumkan rencana pernikahan, Walter meninggal dunia beberapa minggu sebelum mengikrarkan sumpah pernikahan.

Rosalie Bradford: 544 kg
Tubuh raksasa Rosalie Bradford memang terlihat sejak masa kanak-kanak. 'Foodaholic' ini mencapai 92 kg di usia 14 tahun dan naik menjadi 140 kg pada ulangtahun ke-15. Rosalie menikah dan punya satu anak. Setelah menikah, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan semakin gemuk.

Sebagai upaya menguruskan badan, Rosalie menggunakan berbagai obat-obatan penurun berat badan hingga beratnya mencapai 136 kg. Dia meninggal pada tanggal 29 November 2006 di usia 63 tahun.


VIVAnews - Remaja di China sedang 'demam' hiasan ponsel yang cukup ekstrem untuk membuatnya terlihat lebih trendi. Salah satu hiasannya adalah kondom. Menurut salah satu murid di daerah Nanning, China, hiasan kondom menciptakan 'kesegaran' dan penting jika dalam keadaan darurat.

Pihak generasi yang lebih tua di Nanning, provinsi Guangxi, Selatan China, terkejut melihat tren ini. Mereka cukup kaget dengan makin terbukanya para remaja menunjukan identitas seksual mereka.

"Orangtua dan guru harus makin gencar memberikan pendidikan seksual pada remaja. Ini demi terpenuhinya pengetahuan remaja soal seks dan pastikan mereka tahu informasi yang benar. Ini demi melindungi mereka selama masa puber," kata Su Chang, psikolog senior dari Nanning City Next Generation of Educational Research seperti dikutip dari NY Daily News.

Hiasan kondom ini dijual dengan harga yang sangat murah, sekitar 5-20 yuan atau setara Rp6.800-27.200. Diperkirakan kualitas bahan dan keamanan kondom ini juga sangat rendah.

Kondom dengan brand "Interesting Imported Condoms" yang digunakan sebagai hiasan ponsel ini memang terlihat sangat unik karena kemasan dihiasi gambar animasi dan lambang horoskop. Tetapi tanpa dilengkapi informasi produk yang lengkap seperti nama pabrik pembuat dan tanggal kedaluarsa.
• VIVAnews

Chronic kidney disease (CKD), also known as chronic renal disease, is a progressive loss in renal function over a period of months or years. The symptoms of worsening kidney function are unspecific, and might include feeling generally unwell and experiencing a reduced appetite. Often, chronic kidney disease is diagnosed as a result of screening of people known to be at risk of kidney problems, such as those with high blood pressure or diabetes and those with a blood relative with chronic kidney disease. Chronic kidney disease may also be identified when it leads to one of its recognized complications, such as cardiovascular disease, anemia or pericarditis.[1]

Chronic kidney disease is identified by a blood test for creatinine. Higher levels of creatinine indicate a falling glomerular filtration rate and as a result a decreased capability of the kidneys to excrete waste products. Creatinine levels may be normal in the early stages of CKD, and the condition is discovered if urinalysis (testing of a urine sample) shows that the kidney is allowing the loss of protein or red blood cells into the urine. To fully investigate the underlying cause of kidney damage, various forms of medical imaging, blood tests and often renal biopsy (removing a small sample of kidney tissue) are employed to find out if there is a reversible cause for the kidney malfunction.[1] Recent professional guidelines classify the severity of chronic kidney disease in five stages, with stage 1 being the mildest and usually causing few symptoms and stage 5 being a severe illness with poor life expectancy if untreated. Stage 5 CKD is also called established chronic kidney disease and is synonymous with the now outdated terms end-stage renal disease (ESRD), chronic kidney failure (CKF) or chronic renal failure (CRF).[1]

There is no specific treatment unequivocally shown to slow the worsening of chronic kidney disease. If there is an underlying cause to CKD, such as vasculitis, this may be treated directly with treatments aimed to slow the damage. In more advanced stages, treatments may be required for anemia and bone disease. Severe CKD requires one of the forms of renal replacement therapy; this may be a form of dialysis, but ideally constitutes a kidney transplant.[1]



keep health our bodies...

Blood pressure is usually classified based on the systolic and diastolic blood pressures. Systolic blood pressure is the blood pressure in vessels during a heart beat. Diastolic blood pressure is the pressure between heartbeats. A systolic or the diastolic blood pressure measurement higher than the accepted normal values for the age of the individual is classified as prehypertension or hypertension.

Hypertension[6] has several sub-classifications including, hypertension stage I, hypertension stage II, and isolated systolic hypertension. Isolated systolic hypertension refers to elevated systolic pressure with normal diastolic pressure and is common in the elderly. These classifications are made after averaging a patient's resting blood pressure readings taken on two or more office visits. Individuals older than 50 years are classified as having hypertension if their blood pressure is consistently at least 140 mmHg systolic or 90 mmHg diastolic. Patients with blood pressures higher than 130/80 mmHg with concomitant presence of diabetes mellitus or kidney disease require further treatment.[5]

Hypertension is also classified as resistant if medications do not reduce blood pressure to normal levels.[5]

Exercise hypertension is an excessively high elevation in blood pressure during exercise.[7][8][9] The range considered normal for systolic values during exercise is between 200 and 230 mm Hg.[10] Exercise hypertension may indicate that an individual is at risk for developing hypertension at rest.[9][10]

(wikipedia)

Hypertension (HTN) or high blood pressure is a chronic medical condition in which the systemic arterial blood pressure is elevated. It is the opposite of hypotension. It is classified as either primary (essential) or secondary. About 90–95% of cases are termed "primary hypertension", which refers to high blood pressure for which no medical cause can be found.[1] The remaining 5–10% of cases (Secondary hypertension) are caused by other conditions that affect the kidneys, arteries, heart, or endocrine system.[2]

Persistent hypertension is one of the risk factors for stroke, myocardial infarction, heart failure and arterial aneurysm, and is a leading cause of chronic kidney failure.[3] Moderate elevation of arterial blood pressure leads to shortened life expectancy. Dietary and lifestyle changes can improve blood pressure control and decrease the risk of associated health complications, although drug treatment may prove necessary in patients for whom lifestyle changes prove ineffective or insufficient.[4]

(wikipedia)

A stroke, previously known medically as a cerebrovascular accident (CVA), is the rapidly developing loss of brain function(s) due to disturbance in the blood supply to the brain. This can be due to ischemia (lack of blood flow) caused by blockage (thrombosis, arterial embolism), or a hemorrhage (leakage of blood).[1] As a result, the affected area of the brain is unable to function, leading to inability to move one or more limbs on one side of the body, inability to understand or formulate speech, or an inability to see one side of the visual field.[2]

A stroke is a medical emergency and can cause permanent neurological damage, complications, and even death. It is the leading cause of adult disability in the United States and Europe and it is the number two cause of death worldwide.[3] Risk factors for stroke include advanced age, hypertension (high blood pressure), previous stroke or transient ischemic attack (TIA), diabetes, high cholesterol, cigarette smoking and atrial fibrillation.[4] High blood pressure is the most important modifiable risk factor of stroke.[2]

A stroke is occasionally treated in a hospital with thrombolysis (also known as a "clot buster"). Post-stroke prevention may involve the administration of antiplatelet drugs such as aspirin and dipyridamole, control and reduction of hypertension, the use of statins, and in selected patients with carotid endarterectomy, the use of anticoagulants.[2] Treatment to recover any lost function is stroke rehabilitation, involving health professions such as speech and language therapy, physical therapy and occupational therapy.

Sinusitis sebagian besar sudah dapat didiagnosa hanya berdasarkan pada riwayat keluhan pasien serta pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter. Hal ini juga disebabkan karena pemeriksaan menggunakan CT Scan dan MRI yang walaupun memberikan hasil lebih akurat namun biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan adanya kemerahan dan pembengkakan pada rongga hidung, ingus yang mirip nanah, serta pembengkakan disekitar mata dan dahi. Pemeriksaan menggunakan CT Scan dan MRI baru diperlukan bila sinusitis gagal disembuhkan dengan pengobatan awal. Rhinoskopi, sebuah cara untuk melihat langsung ke rongga hidung, diperlukan guna melihat lokasi sumbatan ostia. Terkadang diperlukan penyedotan cairan sinus dengan menggunakan jarum suntik untuk dilakukan pemeriksaan kuman. Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan jenis infeksi yang terjadi.

Gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta demam. Hampir 25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita. Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri menelan, dan batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan. Pada sinusitis karena alergi maka penderita juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan alerginya seperti gatal pada mata, dan bersin bersin.


Sinusitis dapat dibagi menjadi dua tipe besar yaitu berdasarkan lamanya penyakit (akut, subakut, khronis) dan berdasarkan jenis peradangan yang terjadi (infeksi dan non infeksi). Disebut sinusitis akut bila lamanya penyakit kurang dari 30 hari. Sinusitis subakut bila lamanya penyakit antara 1 bulan sampai 3 bulan, sedangkan sinusitis khronis bila penyakit diderita lebih dari 3 bulan. Sinusitis infeksi biasanya disebabkan oleh virus walau pada beberapa kasus ada pula yang disebabkan oleh bakteri. Sedangkan sinusitis non infeksi sebagian besar disebabkan oleh karena alergi dan iritasi bahan bahan kimia. Sinusitis subakut dan khronis sering merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.


Sinusitis dapat terjadi bila terdapat gangguan pengaliran udara dari dan ke rongga sinus serta adanya gangguan pengeluaran cairan mukus. Adanya demam, flu, alergi dan bahan bahan iritan dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada ostia sehingga lubang drainase ini menjadi buntu dan mengganggu aliran udara sinus serta pengeluaran cairan mukus. Penyebab lain dari buntunya ostia adalah tumor dan trauma. Drainase cairan mukus keluar dari rongga sinus juga bisa terhambat oleh pengentalan cairan mukus itu sendiri. Pengentalan ini terjadi akibat pemberiaan obat antihistamin, penyakit fibro kistik dan lain lain. Sel penghasil mukus memiliki rambut halus (silia) yang selalu bergerak untuk mendorong cairan mukus keluar dari rongga sinus. Asap rokok merupakan biang kerok dari rusaknya rambut halus ini sehingga pengeluaran cairan mukus menjadi terganggu. Cairan mukus yang terakumulasi di rongga sinus dalam jangka waktu yang lama merupakan tempat yang nyaman bagi hidupnya bakteri, virus dan jamur.


Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Sinus frontalis terletak di bagian dahi, sedangkan sinus maksilaris terletak di belakang pipi. Sementara itu, sinus sphenoid dan sinus ethmoid terletak agak lebih dalam di belakang rongga mata dan di belakang sinus maksilaris. Dinding sinus terutama dibentuk oleh sel sel penghasil cairan mukus. Udara masuk ke dalam sinus melalui sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara rongga sinus dengan rongga hidung yang disebut dengan ostia. Jika oleh karena suatu sebab lubang ini buntu maka udara tidak akan bisa keluar masuk dan cairan mukus yang diproduksi di dalam sinus tidak akan bisa dikeluarkan.

Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak ditemukan pada penderita hay fever yang mana pada penderita ini terjadi pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung. Jangan dilupakan kalau sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Tulisan kali ini lebih menitikberatkan pembahasan pada sinusitis yang disebabkan oleh infeksi.